Sudut remang malam teretas manja,
dia bagaikan lentera disudut kegelapan. Gelak tawanya, senyumnya, ayunan
langkahnya menguak bak putri indonesia yang melebihi nominasi diatas nomor
satu.
Malam itu rintik bahkan tumpahan ujan dari kendi kekuasaan Tuhan tak
mampu menghalangi langkah ku untuk mendekatinya. Dan mungkin Tuhan tersenyum
melihat aksi gila ku, lalu meloloskan ku untuk mendapatkan teropi “sosok sepertinya”.
Dia yang melemahkan niat manja ku, mematikan ambisi gengsi ku, yang
memenjarakan perasaan ku dalam kerangkeng hatinya nan rapi, dia yang membuat ku
tak kuasa untuk menolak menghargainya. Tapi saya tidak mau ungkapin siapa
dia….hee..
Anggap ja lagi di kuis “siapa
dia”?..atau paling modernnya anggap aja saya lagi menggunakan politik proteksi
seperti poltik proteksi orang jepang dalam melindungi produk dan geliatekonominya. Weh,,gaya ya…
It’s oky…saya pingin ungkapin satu
hal dalam tele tulis ini…konci…konci…konci motor itu. Ia seakan hidup lalu
mengambil peran jadi jembatan (kalau dibahasakan sebagai “cong belang” lah
malam itu). Kok bisa (menderamatisir dialog)…
Bisa saja, soal saya dak sengaja
tiba tiba dia masih di sana. Lalu setelah nyampai di koz, baru keingat. Mungkin
ia lagi tertawa, karena disini saya hanya berlagak kayak burung beo
kepanasan…mau balik ngambil ujan sudah mulai serius dan besar, mau nelpon sudah
ketemu dan bicara, canda, panjang lebar..
Lalu kata bismimillah saya coba aja
sebagai bentuk usaha…seperti motivasi dikeranjang usaha. Dia saya telpon coba
mengeluarkan kata-kata singkat padet dan jelas terkesan melakoni latar tegas…
tapi dalam hati meminta berlama-lama…..weleh….weleh…ada-ada aja mahluk tuhan
bernama manusia ini.
Tapi itu lah konci dia mampu
medeskripsikan diri ku malam itu, tentang apa yang aku rasa, tentang apa yang
aku mau, tentang apa yang aku tuju, tentang apa yang aku impikan…….yang pasti
buakan terkonci mengutip ayo menulisnya sang turmuji…..
By.Julaedi
Akbar
Post a Comment