Di Masjid Itu Ada Harga Mati; “Ikhlas”

Relung senja membumbung di kumandang ajan magrib. Gelisahnya semakin kentara dari geliat tubuh manjanya saat di bonceng. Usulnya riang ‘ kita sholat dimasjid seperti biasa yang kita lakukan dulu, ungkapnya lirih. Dan naluri ini mengerti. Lalu,

Saya menjawab ‘sip’…

Suara ajan mulai menepi dikeheningan lantunan sholat magrib. Jejak kami mengikuti lorong waktu untuk mengejar sampai tujuan dengan angan-angan tidak telat menunaikan sholat magrib itu.
Tidak ada kejadian istimewa. Kami menikmati perjalan itu. Sesuai rencana, tapak kaki ini menginjak areal masjid narmada yang tidak pernah saya perhatiin apa nama masjidnya. Suasana ramai menjadi tontonan yang tidak asing. Saya tidak tau persis dari mana saja hamba tuhan yang mengabdikan dirinya dalam bentuk sujud, rukuk dan duduk seperti yang juga saya akan lakukan.

Tapi mereka tetap lah muslim yang baik menjunjung tinggi nilai islam yang luhur. Mengikhlaskan diri dalam melepas waktu aktifitasnya untuk menunaikan sholat magrib. Ritual magrib sudah saya lakukan, lalu tenang melangkah dan sabar menunggu dia, perempuan yang mengajarkan saya tentang banyak hal….dan hanya saya yang tau…soal kalau saya sebut satu persatu, tar pada ngiri..

hee..canda.

Okey, saya kembali ke masjid narmada itu. Tidak unik sih,,,tapi saya jujur aja…ada hal menariknya untuk saya ceritakan ke pembaca blog…siapa tau rumahnya deket masjid atau syukur-syukur anak marbot atau pengurus mesjid lalu ngasih tau ke mereka demi maesjid-mesjidnya kedepan.

Jadi gini, cerita yang saya tulis dari realita yang diterapkan mesjid narmada tersebut. Tukang parkir, tukang atur sandal, tukang jaga kotak amal, semua ada. Jadi saat jamaah laksanakan sholat mereka tenang dan diharapkan bisa khusus..ya terserah mereka yang lakukan sholat dah…

Ambil tukang parkir, selepas sholat magrib saya nanya, ya itung-itung manpaatin waktu nunggu..

‘bapak sudah sholat,,..’

Sudah..

Kok bisa…?

Kan bergiliran…

Pas solat berati ada yang jaga juga dong…

Ya…

Terus, sholatnya?

Belakangan sih…

…o..kok bisa, dan gayanya bapak bersama rekan-rekan beda lo,,,tukang parkir, atur sandal dan jaga kotak amal lain-alain…dan itu serempak…gimana perasaannya….?

Kami disini tidak mengharapimbalan..liat aja markirnya kayak dimall pake nomor,,tapi tidak dipungut uang parkir kan?..tukasnya balik nanya..

Ya sih pak?...

Terus, tujuan bapak dan rekan-rekan apa dong…

Kami hanya menginginkan masjdi ini ramai, damai dan memberikan kenyamanan serta keamanan bagi para jamaah. Lalu dengan sendirinya rezeki itu mengalir..sambil menunjuk kotak amal..
Maksudnya?

Ya, artinya ketika kami melayani jemaah dengan ikhlas dan berserah diri pada ketentuan tuahan semuanya akan mudah. Lihat banyak jemaah menyempatkan diri memasukkan sebagian rezekinya ke kotak amal. Dan anda liat sendiri kondisi kotak amal itu bisa dibilang tiap hari hampir penuh….Kami tidak mengharap dapat bagian dari semua itu, kami hanya melakukan yang terbaik demi kenyamanan beribadah. Kami hanya mengambil hikmahnya bisa ikhlas dalam berbuat…

Keren bukan…..kembali ke pembaca ya menila….saya hanya numpang cerita…

By. Julaedi Akbar.
Share this article :
 

Post a Comment

 
Support : Rekam Jejak | | Julaedi Akbar
Copyright © 2011. Rekam Jejak - All Rights Reserved
Kontak Published by 081936754808
Proudly powered by Blogger